Showing posts with label BEUTONG. Show all posts
Showing posts with label BEUTONG. Show all posts

Monday, October 22, 2012

Siapa Bohong di Emas Beutong????


“Mungkin saja terjadi manipulasi data agar mengecohkan investor untuk membeli saham,” kata Edi Tamren, Kepala Bidang Pertambangan pada Dinas Pertambangan dan Energi Nagan Raya.
Pernyataan Edi Tamren itu menanggapi laporan The Atjeh Times edisi pekan lalu tentang potensi emas Beutong Ateuh yang disebut-sebut mencapai 500 juta ton.
Adalah Owen Hegarty, pengusaha pertambangan Australia dari kelompok Tigers Realm Group yang membuat pernyataan itu di koran The Australian. Kata Owen, perusahaannya baru saja menyelesaikan survei temuan kandungan emas-tembaga di Beutong, Nagan Raya. Menurutnya, kandungan tembaga-emas di Beutong cukup besar. Bahkan, ia menyamakannya dengan deposit yang ditemukan di Bouganville Rio Tinto, Papua Nugini.
Dia menyebut kandungan tembaga-emas di Beutong sebagai “one of the world’s more exciting copper-gold fields (salah satu lahan tambang emas-tembaga menarik di dunia).”
Edi tak heran dengan pernyataan itu. Kata dia, di dunia pertambangan lazim terjadi sebuah perusahaan membesar-besarkan potensi emas untuk meningkatkan nilai perusahaannya di bursa saham. “Dulu kan ada juga perusahaan yang memanipulasi data kandungan emas. Ketika terbongkar, nilai sahamnya langsung jatuh,” kata Edi.
Edi tak menjelaskan perusahaan yang dimaksud. Namun, kasus itu terjadi di Kalimantan Timur dan dikenal dengan sebutan “skandal Busang”. Ketika itu, Perusahaan Bre-X mengumumkan menemukan kandungan emas 70 juta ounces di Busang. Namun, temuan itu kemudian dibantah oleh Freeport. Hal ini membuat gempar bursa saham Kanada, dan harga saham Bre-X yang tadinya $ 250 anjlok menjadi $ 2,5 selembarnya.
Menurut Edi, Pemerintah Nagan Raya memang telah mengeluarkan izin eksplorasi emas di Beutong kepada PT Emas Mineral Murni. Lokasi garapannya di Blang Puuk, Beutong Benggalang, Nagan Raya.
Izin itu dikeluarkan pada 2006 dengan  nomor 545/68/KP-EKPLORASI/2006 dengan kuasa pertambangan Eksplorasi NR.01 MAP 06. Izin survei itu, kata Edi, berlaku selama delapan tahun.
Tentang masuknya kelompok Tigers Realm Group, Edi bukannya tak tahu. Namun, kata dia, hal itu bisa saja terjadi jika pihak yang mendapat izin bekerja sama dengan perusahaan luar.  “Cuma dalam melakukan eksplorasi, mereka bekerja sama, itu sah-sah saja” kata Edi.
Selama ini, kata Edi, setiap tiga bulan sekali, pihak perusahaan menyerahkan hasil surveinya kepada Dinas Pertambangan Nagan Raya. Berdasarkan laporan itu, kata dia, kadar emas Beutong tidaklah seperti disebut Owen. “Laporan mereka, kadar emasnya kecil, yang lebih tinggi kadar tembaga,” kata Edi.
 “Jadi, kalau mereka ngomong besar itu, kita belum meyakini laporan mereka karena berpegang pada laporan selama ini,” kata Edi.
Selama pengerjaan eksplorasi tambang emas itu, kata Edi, hanya diambil sampel untuk  diteliti di laboratorium daerah Medan, Sumatera Utara, lalu dilanjutkan di Jakarta. “Sampai Medan hanya dijadikan bubur (dihaluskan), setelah itu dilanjutkan di Jakarta untuk mengetahui kandungan mineralnya,” kata Edi.
Dari eksplorasi tembaga-emas itu, kata Edi, Pemerintah Nagan Raya menerima setoran berkisar Rp68 juta setiap tahun.
Selain di Beutong, kata Edi, Nagan Raya juga punya cadangan emas di Alue Bilie. Namun, kadarnya belum diketahui karena belum diteliti.
Adapun kawasan pencarian emas tradisional yang dilakukan warga Nagan Raya, terletak di kawasan Krueng Cut, Kecamatan Beutong, dan Krueng Kila, Kecamatan Seunagan timur.
“Ada di aliran sungai, namun tidak berbahaya karena menggunakan alat tradisional, dan mereka tidak melakukan penggalian” kata Edi.
Ketua Komisi B Nagan Raya Khalidi mengatakan keberadaan tambang emas Beutong belum pernah dilaporkan oleh pihak eksekutif. Namun begitu, kata Khalidi, pihaknya sudah pernah mendatangi lokasi itu.
Terkait kemungkinan adanya potensi emas yang besar, Khalidi juga berharap dinas terkait bisa mengawasi setiap aktivitas yang dilakukan pihak perusahaan yang masih melakukan eksplorasi. 
Selain itu, Khalidi juga berharap proses eksplorasi tersebut tidak berlangsung lama. “Sudah lama, masih eksplorasi, kita berharap dipercepat” kata Khalidi. | YUSWARDI A. SUUD | RUSMAN RAFIUDIN (Nagan Raya) | sumber

Perusahaan Australia Umumkan Temukan 500 Juta Ton Deposit Emas-Tembaga di Beutong


BANDA ACEH - Pengusaha pertambangan Australia dari kelompok Tigers Realm Group mengumumkan telah menemukan deposit emas-tembaga sebanyak 500 juta ton di Beutong, Nagan Raya. 
Pernyataan pengusaha bernama Owen Hegarty itu dimuat The Australian, koran terkemuka di Austrilia, pada 9 Oktober 2012. 
Kepada The Australian, Owen Hegarty menyebut kandungan emas-tembaga di Beutong itu sebagai salah satu lahan tambang emas-tembaga menarik dunia,  menyamai deposit di pertambangan  Bouganville milik perusahaan Rio Tinto di Papua Nugini. 
Bougainville adalah salah satu provinsi di Papua Nugini yang menuntut kemerdekaan karena persoalan perbedaan ras, dan pembagian tidak adil atas hasil lahan tambang di daerah mereka. 
Deposit emas Beutong, kata Owen, akan cocok untuk pertambangan melalui open pit mining atau sistem penambangan terbuka dengan membuat lubang besar. 
"Sumber daya pertama kami adalah di utara, 500 juta ton dengan kadar tembaga 0,47 persen. Itu tidak buruk," kata Owen.
Owen juga meyakinkan perusahaannya telah cukup dana untuk memulai tahapan penambangan tahun depan. 
Pernyataan Owen ini cukup mengejutkan. Sebab, sebelumnya Bupati Nagan Raya Teuku Zulkarnaini pada Januari lalu mengatakan, hasil eksplorasi emas Beutong Ateuh yang dilakukan Dinas Pertambangan dan Energi Nagan Raya menemukan sebagian besar emas Beutong banyak mengandung tembaga. | sumber

Di Beutong, Tim Gabungan Musnahkan Satu Hektar Ladang Ganja

SUKA MAKMUE – Tim gabungan TNI dari Kodim 0116 bersama pihak kepolisian Polres Nagan Raya memusnahkan sekitar satu hektar ladang ganja di kawasan hutan lindung yang berada di Kecamatan Beutong Banggalang, Kabupaten Nagan Raya.
Penemuan ladang ganja tersebut merupakan hasil pengembangan informasi yang didapat TNI Posramil Beutong Banggalang melalui informasi yang diterima darimasyarakat. Setelah melakukan pengembangan TNI dan polisi akhirnya melakukan penggerebekan dan pemusnahan ladang ganja tersebut pada Rabu, 5 September 2012 lalu.
Mayor CPL Dedi Harahap, Kasdim 0116 Nagan Raya, kepada The Atjeh Post mengatakan bahwa sebelumnya tim gabungan telah melakukan pengembangan selama lima hari. Namun saat dilakukan penggerebekan pada hari Selasa, 4 September 2012, mereka tidak menemukan pemilik kebun ganja tersebut.
“Kita tidak menemukan pemilik kebun meski sudah kita geledah langsung,” ujarnya.
Pemusnahan ladang ganja tersebut dipimpin oleh Kasdim 0116 Mayot Cpl Dedi Kurnia Harahap dan Kompol Trisna, Kabag Ops Polres Nagan Raya.
Kebun ganja tersebut berada di dua lokasi terpisah dengan jarak antara satu kebun dengan kebun yang lain sekitar seratus meter. Di lokasi juga ditemukan sejumlah tanaman ganja dengan usia tanaman yang bervariasi, di antaranya ada yang baru ditanam dan sebagian sudah pernah di panen.
“Saat melakukan penggeledahan kebun ganja tersebut langsung kita musnahkan dengan cara dibakar, bahkan dua gubug yang ada di sana jua ikut kita bakar,” ujarnya lagi.
Sementara itu pihak kepolisian akant erus melakukan pengembangan untuk mencari tahu siapa pemilik kebun tersebut. Mereka juga mencurigai kemungkinan adanya kebun ganja yang lain, mengingat kawasan Beutong merupakand aerah kawasan pegunungan yang strategis untuk ditanam ganja.
Tim gabungan tersebut juga turut digeledah di Posramil Beutong Banggalang, untuk mengantisipasi tidak ada anggota tim yang menyelipkan ganja tersebut untuk kepentingan pribadi.
Tim gabungan yang turun ke lokasi mencapai puluhan orang terdiri dari 25 personil TNI, 20 personil polisi, 1 personil Satpol PP, tokoh masyarakat dan Pemuda Nagan Raya.[] | seumber

PETANI BEUTONG TAK ADA AIR


SUKA MAKMUE - Warga Kemukiman Balang Teungku, Kecamatan Beutong, Nagan Raya, sudah bertahun-tahun tidak bisa bertani. Bukannya karena tak ada lahan, tapi ketiadaan air membuat mereka tak produktif. Di kecamatan itu bukannya tak ada irigasi. Tapi irigasi yang dibangun tidak berfungsi.
Padahal, warga kemungkiman tersebut rata – rata berprofesi sebagai petani. “Sudah bertahun-tahun kami mengalami ini,” kata Nazar, warga Blang Tengku, Rabu 11 Juli 2012.
Menurut Nazar, irigasi yang dibangun pemerintah setempat pada 2010 lalu sama sekali tak berfungsi. Padahal, irigasi ini adalah harapan petani untuk mengairi lahan mereka. “Kami berharap dengan dibangun irigasi bisa memberi manfaat, tapi irigasi juga tidak berguna bagi kami, dibangun asal jadi, sampai sekarang semenjak dibangun tidak pernah sampai air ke sawah kami,” kata Nazar.
Nazar juga mengatakan irigasi tersebut dibanggun diatas aliran air dan tidak dibuat penahan air sehingga tidak mengalir sebagaimana mestinya. “Seharusnya dibangun penahan air agar bisa mengalir melalui saluran irigasi itu,” Kata Nazar.
Akibat tak ada air ini, hampir seluruh lahan warga kering kerontang. “Sawah dibiarkan mengering begitu saja,” katanya.[] | sumber

Tuesday, September 18, 2012

Suka Makmue, Ibukota Nagan Raya (Bukan Jeuram, seperti sering ditulis Harian Srambi Indonesia)

Mon, Jun 6th 2011, 08:08
Suka Makmue, Ibukota Nagan Raya
Droe keu Droe Haian Serambi Indonesia, edisi:  Minggu, 06 Juni 2011
DI SINI

Kabupaten Nagan Raya adalah sebuah kabupaten di Provinsi Aceh, Indonesia. Ibukotanya Suka Makmue, yang berjarak sekitar 287 km atau 8 jam perjalanan dari Banda Aceh. Kabupaten Nagan Raya berdiri berdasarkan UU Nomor 4 Tahun 2002, tanggal 02 Juli 2002 sebagai hasil pemekaran Kabupaten Aceh Barat. Dalam UU Nomor 4 tahun 2002 tersebut, selain Nagan Raya juga diputuskan tentang pembentukan beberapa kabupaten lainnya di Provinsi Aceh, yaitu Kabupaten Aceh Barat Daya, Kabupaten Gayo Lues, Kabupaten Aceh Jaya, dan Kabupaten Aceh Tamiang.

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 4 tahun 2002 tersebut disahkan di Jakarta pada tanggal 10 April 2002 oleh Presiden Republik Indonesia Megawati Soekarnoputri. Disebutkan pada BAB II tentang Pembentukan, Batas Wilayah, dan Ibukota, pasal 11 angka (4) berbunyi: �Ibukota Kabupaten Nagan Raya berkedudukan di Sukamakmue�.

Pada bulan Juli 2011 mendatang Nagan Raya akan berusia 9 tahun. Meskipun usianya hampir mencapai satu dekade, namun kebanyakan masyarakat Aceh di luar Nagan tidak mengetahui dengan pasti atau bahkan tidak tahu sama sekali nama Ibukota Kabupaten Nagan Raya, apalagi di mana Ibukota Kabupaten Nagan Raya tersebut berada, kecuali mereka yang mempunyai hubungan kerabat saudara atau hubungan kerja di Nagan Raya. Ironisnya, tidak demikian dengan kabupaten pemekaran lainnya yang serentak dengan pembentukan Nagan Raya, kebanyakan mereka tidak keliru dalam menyebutkan Ibukota Kabupaten dimaksud. Bahkan berdasarkan pengalaman pribadi kami, pernah ada yang menyatakan pada kami, �Ibukota Nagan Raya itu, adalah Jeuram ya?�.

Berdasarkan paparan di atas, bagi kita yang sudah tahu mari sama-sama kita luruskan kekeliruan ini. Terutama bantuan dari rekan media massa baik cetak maupun elektronik. Kami minta dukungannya serta untuk ke depan tidak lagi menyebutkan/menulis Jeuram pada awal berita yang berasal dari Kabupaten Nagan Raya agar kekeliruan yang selama ini terjadi tidak semakin berlanjut.

Muttaqin
Jln. Suka Makmue-Takengon No. 06 Desa Keude Seumot, Ulee Jalan Kec. Beutong Kab. Nagan Raya


SUMBERNYA

Wednesday, June 13, 2012

WARGA BEUTONG TEWAS LAKALANTAS

Firmansyah (18) seorang warga Desa Bumi Sari, Kecamatan Beutong, Kabupaten Nagan Raya, Senin (4/6) sore sekitar pukul 16.00 WIB, tewas mengenaskan sejenak kecelakaan lalu lintas dengan sebuah kendaraan roda empat jenis pikap L-300 di lintasan Ulee Jalan-Bumi Sari, Kecamatan Beutong.
 
Seperti yang diberitakan serambinew.com, keterangan yang berhasil dikumpulkan dari sejumlah warga dan aparat kepolisian, kecelakaan yang terjadi di kawasan hutan itu ketika korban Firmansyah (18) yang mengendarai sepeda motor jenis Honda Blade tanpa dilengkapi nomor polisi itu meluncur dari arah Ulee Jalan menuju ke Desa Bumi Sari dengan kecepatan tinggi.

Setibanya di kawasan turunan yang berada di kawasan perbukitan, korban yang mengendarai sepeda motor dengan kecepatan tinggi itu berpapasan dengan mobil L-300 pikap dengan nomor polisi B 9017 KY yang dikendarai oleh Wawan (35) warga Desa Bumi Sari, dengan posisi laju kendaraan roda dua mengambil jalur sebelah kanan.

Karena kendaraan roda empat sedang mendaki dan korban Firmansyah memacu kendaraan roda duanya dengan kecepatan tinggi, akhirnya mobil pikap itu berusaha untuk  mengelak ke bagian kanan badan jalan. Namun takdir berkata lain, sepeda motor yang dikendarai korban justru bertabrakan sehingga menyebabkan korban mengalami luka parah di bagian kepala dan langsung tewas seketika di lokasi kejadian.

Polisi yang mendapatkan laporan itu langsung menuju ke lokasi kejadian, guna melakukan penyelidikan. “Berdasarkan hasil pemeriksaan sementara, tewasnya Firmansyah ini akibat kecelakaan. Karena korban memacu kecepatan sepeda motor dengan kecepatan tinggi dan mengambil jalur yang salah,” kata Kapolres Nagan Raya AKBP Heri Heryandi melalui Kasat Lantas Iptu Tesyar Rhofadli, Selasa (5/6) siang kemarin.

Menurutnya, dalam kasus itu polisi juga sudah mengamankan sopir dan mobil L-300 yang mengalami kecelakaan di kawasan Bumi Sari, serta sepeda motor yang dikendarai oleh korban dan kini berada di Mapolres Nagan Raya untuk penyelidikan lebih lanjut. “Kasus ini masih kita lakukan penyelidikan, sedangkan korban yang tewas sudah dikebumikan pihak keluarga di kampung halamannya,” pungkas Kasat Lantas Polres Nagan Raya Iptu Tesyar Rhofadli.(edi)

Friday, June 8, 2012

ALAM BEUTONG YG MEMPESONA


Gunung itu menjulang tinggi ke anggkasa, hijau dedaunan pohon menari – nari di atas puncaknya seakan menyapu langit langit biru.
Serta aliran sungai di bawahnya meliuk – liuk bagaikan se ekor ular yang menjalar menyulusuri hamparan padang luas, Air bersih nan bening yang mengalir diantara celah bukit hutan yang dianugerahi surat keramat sebagai hutan lindung itu, memberi kesejukan bagi mereka yang bersentuhan dengan air di tempat tersebut, itulah pesona krung isep
Sugai yang membelah Gampong Pante Ara tersebut berada di wilayah Barat Aceh, kurang lebih 15 kilometer jarak tempuh dari Suka Makmur Ibukota Kabupaten Nagan Raya dan 10 KM dari Kota Jeuram.
Hampir setiap hari tempat tersebut di penuhi wisatawan local maupun wisatawan luar, aliran sugai yang masih perawan itu mengalir tepat dibawah jembatan yang menghubungkan antara Keude Ule jalan dengan pemukiman beutong ateh, dibawah jembatan itulah orang – orang berteduh dari sengatan mata hari, memanjakan diri dengan alam.
Disamping itu rangkang – rangkang berbahan kayu dan beratapkan daun rumbia berbejejeran di sepanjang aliran sugai tersebut, menjadi salah satu pilihan sebagai tempat singgasana peristirahatan setelah bermanja senda dengan kesejukan air.
Dari rangkang – rangkang itupula henbusan aroma kopi robusta menyebar keseluruh lubang hidung seakan aroma itu mencokok pengunjung untuk menikmati air pekat hitam yang telah bercampur ampas kopi, meng hangatkan badan setelah bermandian.
Sore itu matahari sudah mulai melangkah pelan menunju pintu peraduan, walau cahaya sedikit terhalang awan namun masih tampak indah di seberang laut barat sana, beberapa pria bergegas meng starter kereta Yamaha Mio menaiki bukit singgah mata, setelah menegak kopi sedukan kak Rohana minggu (27/05/2012).
Hanya menaiki tajakan lebih kurang satu kilo meter kita sudah mengapai Jambo Bengkuang yaitu puncak gunung singgah mata, bangunan tersebut terletak berada di antara pemukiman Ule Jalan dengan pemukiman Beutong Ateh.
Banguna yang berukuran 4 x 4 berbahan kayu dan semen yang beratapkan seng itu merupakan tempat peristirahantan bagi warga yang melewati daerah tersebut.
Bangunan yang sudah tertata rapi serta corak dindinng yang di poles cat biru muda itu sebagai tempat persinggahan sementara untuk memanjakan mata,bagi mereka yang sedang melakukan perjalan ke Takengon maupun sebaliknya, di tempat itu tidak sulit mendapatkan permandangan alam hijau Kebupaten Nagan Raya yang membentang luas dari bujur barat sampai bujur selatan.
Pesona singasana singgahmata yang menyebar keindahan alam di tambah dua sejoli aliran sungai besar yang berkelok – kelok menyulusuri bentangan persawahan hijau menjulur jauh sampai ke tepi laut kuala tuhan, yang memberi kenangan tersendiri bagi mereka penikmat wisata alam.
Dari kejauhan terlihat Kebun sawit yang hijau jauh membentang di sepanjang wilayah pesisir laut samudra hindia, di tengah – tengah itupula mengepul asap tebal pabrik kelapa sawit soffindo menjulur ke anggkasa bagaikan kapal uap dalam lautan yang sedang mengarungi samudra.
Kerumunan awan – awan kecik menjilat – jilat pucuk hutan perawan meranti, dari beranda jambo bengkuang di puncak singgah mata hamparan kemuning padi terlihat di bukit cout jawi serta bangunan pusat kota meulaboh berdiri kukuh di kejauhan menadah langit seakan menunjuk akhir segala alir, yang tak henti menyimpan gairah bagi pancaran mata.
Tapi sangat disayangakan, jalan menuju kesana sering menjadi amukan longsor, terkikis air saat musim hujan tiba, akibat banyak nya lubang serta berbatuan mehambat para pengguna jalan itu, jalan urat nadi yang menghubungkan antara Kabu Paten Nagan Raya Dan Aceh Tengah Itu seakan luput dari penglihatan pemerintah setempat.
Padahal tempat tersebut berpotensi besar bagi sektor pariwisata serta meninggkatkan perekonomian warga dengan memasokkan sayur – sayuran dari kota takengon.
Malam di ambang petang lembayung mulai memuncratkan warna ke emasan keseluru penjuru anggakasa tamparan lembut hawa dingin mulai terasa, sebentar lagi mata hari lenyap di telan bumi. Kami pun turun di keleluasan senja mengakhiri cerita di jambo bengkuang.
Penulis : T.Hendra Keumala Alamsyah
| sumber : diliputnews.com

FOTO UDARA ULEE JALAN/KEUDE SEUMOT KEC. BEUTONG

FOTO YG MENUNJUKKAN KEADAAN ULEE JALAN (LAMA)
agar lebih jelas/besar, klik kanan pada gambar : open in new tab

Friday, January 20, 2012

Menyingkap Jejak Pelarian Cut Nyak Dhien (Beutong Ateuh)

Betong Ateuh adalah sebuah lembah yang subur dan indah. Terletak di kaki bukit barisan yang dikelilingi rindang hutan, pemukiman jejak kekuasaan raja Beutong Banggalang ini tampak nyaman dan sejahtera. Kelokan sungai jernih yang membelah empat gampoeng (kampong) menambah sejuk dan segar

Selain keindahan dan kesejukannya, Beutong Ateuh juga menyimpan berbagai situs sejarah yang layak untuk ditelisik. Salah satu situs sejarah yang masih diperdebatkan kebenarannya adalah tempat persinggahan Cut Nyak Dhien di desa Blang Puuk.

Di desa yang bersebelahan dengan desa Blang Meurandeh ini terdapat sebuah batu besar dan sebatang pohon asam jawa yang dikisahkan menjadi tempat persinggahan Cut Nyak Dhien semasa perang melawan kompheni Belanda.

Sebuah batu besar yang setengah tenggelam di dalam tanah di desa Blang Puuk Beutong Ateuh Nagan Raya yang diyakini sebagai tempat persinggahan Cut Nyak Dhien semasa perang melawan Kompheni Belanda. 

Namun demikian, keyakinan itu belum dipastikan kebenarannya. Selain karena belum ada penelusuran sejarah perihal bukti-bukti tersebut, juga karena informasi yang berkembang adalah kisah lisan yang belum tercatat dalam catatan sejarah.

Hal ini dibenarkan oleh Teungku Muda, salah satu sesepuh desa Blang Puuk. Menurutnya batu besar dan pohon asam jawa yang dimaksud adalah tempat persinggahan dua belas tentara Belanda yang tersesat, bukan tempat persinggahan Cut Nyak Dhien.

Lebih lanjut menurut Teungku Muda, coretan-coretan yang terdapat pada batu besar, yang sulit terbaca kalimatnya, adalah coretan-coretan tentara Belanda di waktu senggang ketika mereka sedang berisitirahat. Mereka menggunakan ujung pedang untuk menuliskan kalimat-kalimat pada wajah batu tersebut.

Terlepas dari semua informasi yang didapat, apakah benar Cut Nyak Dhien pernah singgah di batu besar di bawah teduh pohon asam jawa, sebagai generasi penerus bangsa pantas dan layaklah kita menelusuri bukti-bukti sejarah para pahlawan nasional, salah satu di antaranya adalah Cut Nyak Dhien.

M.H. Skelely Lulofs yang menulis novel sejarah ‘Cut Nyak Din, Kisah Ratu Perang Aceh (Komunitas Bambu:2007) mencatat bahwa sebelum kompheni Belanda mengalahkan kampung 4 Mukim dan menduduki kota Kroe’eng Bata, pada 18 Januari 1987, keberadaan Cut Nyak Dhien tidak diketahui. Cut Nyak Dhien seolah-olah hilang selama bertahun-tahun.

Lulofs hanya mencatat bahwa dalam masa pelarian Cut Nyak Dhiensering berpindah-pindah tempat, sehingga keberadaannya sulit untuk dilacak. Pertanyaan kita adalah apakah dalam masa pelarian tersebut Cut Nyak Dhien pernah singgah di Beutong Ateuh? Adakah jejak sejarah yang ditinggalkan sebagai bukti? Apakah benar babu besar di desa Blang Puuk adalah tempat persinggahan Cut Nyak Dhien? Inilah pertanyan besar yang mesti dijawab oleh generasi masa depan Aceh, selamat menelisik sejarah.

Oleh Kris Bheda, www.krisbheda.wordpress.com